#BeraniLebih Memilih Menjadi Ibu Profesional

Tahun 2014 lalu, genap 18 tahun sudah saya berkarier di perusahaan miliki sendiri. Tepatnya, saya adalah owner dari perusahaan kecil menengah yang bergerak di bidang distribusi makanan ringan yang berkantor di rumah.

Orang sering beranggapan kalau wanita yang memiliki usaha di rumah itu pasti lebih bisa mengawasi anak-anak karena punya waktu lebih banyak ketimbang mereka yang bekerja di kantor. Dari pengalaman saya, pendapat ini tak sepenuhnya benar.

Tahun 2008 usaha saya berada diujung tanduk. Teman yang menjadi salah satu kepala cabang tidak amanah. Tak hanya mendirikan usaha sendiri, modal saya pun ikut ia angkut. Sayangnya, saya tak bisa menuntutnya lewat jalur hukum karena bisnis saya masih mengandalkan kepercayaan, khas bisnis yang dikelola dengan manajemen tradisional.

Kondisi ini memaksa saya menjual asset pribadi yang saya miliki untuk menutupi kerugian. Tak hanya itu, saya dan suami pun harus bekerja ektra keras untuk bangkit dan keluar dari krisis. Rasanya, bekerja 24 jam sehari selama 7 hari tidak cukup, karena saya dan suami harus kembali memulai semuanya dari nol. Lalu, bagaimana dengan anak-anak?

Saat itu boleh dibilang anak-anak jauh dari terurus. Bahkan saya cenderung lebih temperamental dibandingkan sebelumnya. Capek dan stress membuat saya jadi mudah marah. Termasuk pada anak-anak.

SAMSUNG CSCTragedi Bullying

Bulan Desember 2012 anak saya yang baru beberapa bulan masuk SD mogok sekolah. Setiap kali akan berangkat sekolah selalu beralasan pusing. Sementara siang harinya ia bermain dengan teman-teman sepermainannya.

Awalnya saya pikir ia benar-benar kurang enak badan. Lama kelamaan saya merasakan ada yang aneh. Dan, ketika saya tanyakan keadaan ini padanya, ia hanya menjawab,”Nggak papa.” dengan raut muka terlihat sedih.

Suatu ketika, anak saya pulang dengan tangis yang mengiris hati. Dalam isak tangisnya ia mengatakan ingin pindah sekolah. Keesokkan harinya saya datang ke sekolahan untuk menemui wali kelasnya. Dari informasi yang saya dapatkan, anak saya menjadi korban bullying beberapa teman sekelasnya. Untungnya pihak sekolah sangat kooperatif dan berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Beberapa bulan anak saya dan teman yang mem-bully mendapatkan terapi.

Peristiwa bullying yang menimpa anak saya tak juga menyadarkan saya untuk lebih memperhatikan anak-anak ketimbang bisnis. Saya tetap bekerja tak kenal waktu. Hingga suatu malam, diantara lelahnya fisik dan pikiran, saya mendatangi kamar anak saya. Saya melihat raut muka tertekan, lelah dan tak bahagia sedang tertidur pulas. Dan tanpa sadar, air mata saya pun meleleh tak terbendung. Ada rasa bersalah yang menghujam dada. Saya merasa telah menyia-nyiakan amanah yang diberikan Allah.

Tepat 2 tahun setelah peristiwa bullying yang dialami anak saya, saya memutuskan untuk berhenti mengurus usaha. Urusan usaha saya pasrahkan sepenuhnya pada suami, sementara saya fokus mengurus anak-anak dan menjadi full time mom at home. Hanya sesekali saja saya membantu mengurus usaha, saat suami sedang kerepotan.

Tak mudah untuk #BeraniLebih memilih menjadi ibu profesional yang mendedikasikan seluruh waktu untuk anak-anak. Butuh waktu lama untuk meyakinkan diri sendiri, saya mampu menjadi full time mom. Kini saya lebih bahagia menjalani hari-hari yang saya lalui karena ikatan emosional antara saya dan anak-anak jadi semakin erat. Bahagia itu sederhana, saat bisa selalu membersamai anak-anak menggapai semua mimpinya.

lomba nulis

Advertisements

5 thoughts on “#BeraniLebih Memilih Menjadi Ibu Profesional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s