Menikmati Keelokkan Wisata Heritage Banda Aceh

Banda Aceh mengingatkan saya pada bencana Tsunami 8 tahun silam. Bencana yang meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah ini tak lantas menggerus semangat masyarakatnya untuk bangkit menatap hari esok yang lebih baik. Dengan semangat Saboeh Pakat Tabangun Banda*, kini masyarakat Aceh mulai berbenah. Dan seiring situasi yang semakin kondusif, Banda Aceh semakin menggoda untuk dikunjungi.

Perjalanan menuju Banda Aceh dapat ditempuh menggunakan jalur darat dan jalur udara. Jika jalur udara yang dipilih, penerbangan dari Jakarta menuju Banda Aceh rata-rata memerlukan waktu sekitar 2 jam 45 menit dengan tarif pesawat sekitar Rp 865.000 hingga Rp 1.902.000.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, kita bisa menggunakan taksi menuju Banda Aceh. Tarif taksi yang dikenakan sebesar Rp 80.000 untuk perjalanan 16 km ke kota.

Selain menggunakan taksi, Labi-labi merupakan transportasi masal yang bisa dipilih untuk berkeliling kota Banda Aceh. Labi-labi atau angkot hanya beroperasi sampai pukul 6 petang, selanjutnya bisa menggunakan becak motor dengan tarif Perda Rp 3.000,- per km.

Ada berbagai tempat menginap yang bisa dipilih saat berkunjung ke Banda Aceh. Gaya ala koper ataupun ransel, semua ada!

Hotel Palembang menjadi salah satu hotel yang direkomendasikan saat bepergian menggunakan gaya ransel. Hotel yang berada di Jl Chairil Anwar, Banda Aceh ini mematok harga menginap per malam tak lebih dari Rp200 Ribu dengan fasilitas AC serta TV. Wow, ekonomis banget, kan?

Wisata Heritage Banda Aceh

Ibukota provinsi di ujung barat Sumatra ini tak hanya kaya akan wisata alam serta objek wisata tsunami. Banda Aceh juga kaya wisata heritage yang tak kalah menarik. Buat saya yang suka dengan bangunan bersejarah, mengunjungi tempat-tempat bersejarah menjadi agenda yang tak pernah terlewatkan kala berlibur ke suatu tempat. Di mata saya, bangunan masa lampau terlihat sangat eksotik.

Sebagai bekas ibukota Kerajaan Islam terbesar di Nusantara, Banda Aceh tentunya memiliki banyak objek wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Beberapa wisata heritage yang wajib untuk dikunjungi diantaranya, Taman Ghairah, Masjid Raya Baiturrahman, serta Kerkhof Peutjut.

Taman Ghairah, ‘Taj Mahal’ Kebanggaan Aceh

Jika Kaisar Mughal Shah Jahan membangunkan Taj Mahal di Agra, India untuk istrinya yang bernama Mumtaz Mahal, Taman Ghairah dibangun Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya yang berasal dari Kerajaan Pahang bernama Putri Kamaliah (Putroe Phang).

Taman Ghairah berisi bangunan putih yang disebut Gunongan dan Pinto Khob. Meski tak setenar Taj Mahal, Taman Ghairah sejatinya dibangun jauh sebelum Taj Mahal.

Menurut Raden Dr. Hoesein Djajadiningrat, sejarahwan Indonesia yang menuliskan sejarah pembangunan Taman Ghairah dalam karyanya De Stichting Van Het Gunongan Geheeten Monument Te Koetaradja yang dimuat dalam majalah TBG, 57 (1916), Sultan Iskandar Muda memerintahkan utoih-utoih (bawahannya) untuk membuat sebuah gunung buatan yang dikelilingi sebuah taman untuk menyenangkan Putroe Phang, sebab sang permaisuri selalu merindukan kampung halamannya yang sarat dengan gunung-gunung.

1875606006_1378131426

Gunongan, bukti cinta Sultan Iskandar Muda (credit)

Gunongan yang berarti gunung ini merupakan bangunan persegi enam berbentuk seperti kelopak bunga yang membungkus sebatang tiang mahkota. Bangunan tiga tingkat serba putih yang dibangun pada awal abad ke-17 ini memiliki tinggi sekitar 9,5 meter. Untuk menaiki puncak Gunongan kita harus menaiki tangga-tangga rendah di dalam Gunongan.

Konon kabarnya, dahulu terdapat Taman Sari yang dipenuh aneka bunga sebagai tempat bermain Putroe Phang bersama para dayang di seputar Gunongan. Dulu, taman memiliki luas sekitar 1.000 depa dan dibangun tepat di tengah kota.

Di depan Gunongan terdapat Petarana, sebuah batu berukir setinggi setengah meter. Menurut cerita, batu berukir ini merupakan tempat permaisuri keramas. Sementara di belakang Gunongan terdapat satu bangunan berbentuk persegi seluas lapangan volley yang disebut Kandangan.

Selain digunakan sebagai tempat makan-makan kerajaan, bangunan ini juga dijadikan tempat permaisuri bermain-main bersama dayang-dayang setelah puas menjelajahi Gunongan. Sekeliling puncak Kandangan dihiasi 12 kuncup bunga, sementara pada pintunya terdapat simbol bunga jeumpa.

IMG_0237_1

Taman Pinto Khob (credit)

Selain Gunongan, di dalam taman Ghairah terdapat pula Pinto Khop, berupa gerbang kecil berbentuk kubah. Pinto Khop tak hanya berfungsi sebagai pintu yang menghubungkan Gunongan dengan istana. Pinto Khop juga merupakan tempat beristirahat Putri Phang setelah lelah berenang.

Kerkhoff Peutjut

Puas menikmati keindahan Taman Ghaidah, saatnya menyusuri Kerkhoff Peutjut yang terletak tak jauh dari Taman Ghaidah, di depan lapangan Blang Padang.

Nama Kerkhoff Peutjut ternyata merupakan gabungan 2 bahasa yakni bahasa Belanda dan Aceh. Kerkhoff dalam bahasa Belanda berarti halaman gereja, sementara Peutjut artinya putra kesayangan.

Di dalam kompleks makam terlihat deretan makam yang umumnya bercat putih dengan ukuran tidak seragam. Kompleks pemakaman ini luasnya sekitar 3,5 hektar.

Selain terdapat makam seribuan serdadu Belanda yang tewas dalam perang Aceh, di komplek pemakaman ini terdapat makam Jenderal Köhler, Jenderal Belanda yang tewas saat agresi militer tahun 1873 M.

Meurah Pupok, putra mahkota Sultan Iskandar Muda juga dimakamkan tepat di tengah pemakaman ini. Meurah Pupok mati di tangan ayahandanya sendiri. Ia mendapatkan hukuman mati karena telah berzina. Dikemudian hari, kematian putra mahkota ini diduga akibat suatu konspirasi politik yang terjadi di istana. Meurah Pupok menjadi korban konspirasi tersebut.

Yang menarik dari kunjungan ke Kerkhoff Peutjut adalah kita bisa mengetahui riwayat tiap penghuni makam. Setiap makam di Kerkhoff Peutjut memiliki kisahnya sendiri. Menyusuri Kerkhoff Peutjut mengingatkan kita pada kegigihan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda.

Masjid Raya Baiturrahman

Berkunjung ke Banda Aceh rasanya tak lengkap jika tidak menyempatkan diri bertandang ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menjadi ‘landmark’ Aceh ini berada tepat di jantung Kota Banda Aceh.

masjid-raya-aceh

Eloknya Masjid Raya Baiturrahman (credit)

Terdapat 2 versi sejarah siapa yang membangun masjid ini. Sebagian sumber menyebutkan masjid ini didirikan pada tahun 1292 Masehi oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah. Sementara, sumber lain menyebutkan masjid ini didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 Masehi.

Masjid Raya pernah terbakar habis saat agresi kedua Belanda pada bulan Safar 1290 H/April 1873 M. Empat tahun setelah Masjid Raya terbakar, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid Raya menjadi saksi perjuangan rakyat Aceh atas penjajahan Belanda. Di masjid inilah Mayjen Khohler tewas saat agresi kedua Belanda.

Jendela besar Masjid Raya Baiturrahman (credit)

Jendela besar Masjid Raya Baiturrahman (credit

Mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman menjadi agenda wajib saat berada di Banda Aceh. Daya tarik Masjid Raya bukan hanya terletak pada nilai sejarahnya yang tinggi saja. Arsitektur Masjid Raya yang bercorak eklektik** begitu memukau hingga membuat siapapun berdecak kagum. Masjid Raya Baiturrahman tampak indah dilihat dari berbagai sudut. Sangat sayang rasanya jika terlewat untuk dikunjungi.

Catatan:

*Semangat bersama membangun Aceh

**Gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.

Referensi:

http://www.bandaacehkota.go.id/6/89Objek_Wisata.html#.U19eeBnZFAg http://m.okezone.com/read/2014/02/21/408/944530/inilah-gunongan-taj-mahal-kebanggaan-aceh http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banda_Aceh http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbaceh/2014/01/16/295/ http://bujangmasjid.blogspot.com

Advertisements

4 thoughts on “Menikmati Keelokkan Wisata Heritage Banda Aceh

  1. Pingback: Daftar Peserta Banda Aceh Blog Competition 2014 | Tourism Banda Aceh

  2. Pingback: Daftar Peserta Banda Aceh Blog Competition | Tourism Banda Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s