[BeraniCerita #33] Sangkar Emas

sangkar

Pagi ini aku hanya bermalas-malasan di atas tempat tidur. Matahari bersinar cerah. Hujan deras yang mengguyur kota ini tadi malam meninggalkan bau tanah yang menyeruak. Menambah kesegaran pagi.

Setelah semalam aku mendapatkan job dari Madam Siska, hari ini aku off. Apalagi besok ada tamu spesial untukku. Aku harus betul-betul mempersiapkan diri hari ini.

Dari balik jendela, aku lihat burung parkit terlihat tak seperti biasanya. Tak terdengar kicau riangnya yang menemani hari-hari sepiku. Ia terlihat murung. Sakit, kah? Atau rindu, kah ia pada keluarganya?

Aku dan burung itu memiliki nasib yang sama. Sama-sama terkurung. Ia terkurung dalam sangkarnya. Sementara aku, terkurung dalam rumah bordil ini.

Besok aku harus melayani Tuan Tanaka. Klien dari Jepang yang tak banyak bicara itu memang spesial. Apalagi kalau bukan karena kantongnya yang tebal. Dua bulan sekali ia datang ke Indonesia. Aku dengar kedatangannya untuk urusan bisnis. Dan hampir dipastikan aku selalu di undang untuk menemaninya. Aku selalu menunggu kedatangannya. Aku selalu merindukan sepasang mata yang memandangku dengan hangat.

***

“Lolita, jemputan sudah menunggu.” Suara halus Madam Siska dari balik pintu memberitahuku, sopir yang di utus Tuan Tanaka sudah datang. Ada desir halus dalam dadaku mengingat tatapan mata hangat itu.

Seperti biasa, setelah sopir menggantarkan aku ke hotel tempat Tuan Tanaka berada ia pun pergi. Malam ini Tuan Tanaka menginap di hotel Shangri-la. Tepat di jantung kota Jakarta. Hotel ini dipilih pastinya untuk memudahkan mobilitas Tuan Tanaka. Kantor Tuan Tanaka berada beberapa gedung dari hotel ini.

Aku langsung menuju kamar yang di pesan Tuan Tanaka. Aku memencet bel pintu bernomor 212. Tak berapa lama pintu di buka.

***

Ketukan Madam Siska membangunkanku. Jam berapa sekarang? Oh Tuhan, ternyata aku ketiduran sejak pukul 4 tadi. Buru-buru aku buka pintu agar Madam Siska tak lama menunggu.

“Lolita, bersiaplah, ada tamu menunggu.”ujar Madam Siska saat pintu terbuka.

“Kok mendadak?”

“Sudahlah, namanya juga rejeki.” ujar Madam Siska sambil berlalu dari hadapanku.

Setelah bersiap, aku pun pelan-pelan turun ke bawah. Deg. Si pemilik mata hangat itu. Apakah dia tamuku?

“Sudah siap? Yuk, pergi sekarang.”ujarnya.

Tak seperti biasanya, kali ini kami pergi menggunakan motor. Sesampai ditaman kota, ia menghentikan motornya. Di kursi taman kota yang disinari bulan purnama, Joko, sopir Tuan Tanaka berkata,”Lolita, maukah kamu menikah denganku. Kamu akan aku ajak pergi jauh dari sini. Mengubur semua kenangan lalu untuk mengukir masa depan yang lebih baik?”

***

“Ibu, bapak kok belum pulang? Pulang jam berapa, Bu?” Pertanyaan si Sulung membuyarkan lamunan panjangku.

“Mungkin sebentar lagi, Nak.”jawabku sambil memeluknya erat.

Walaupun kini aku tinggal di gubuk sederhana bersama suami dan kedua anakku, aku jauh lebih bahagia dibandingkan saat hidup di dalam sangkar emas dulu.

Word: 426

Advertisements

16 thoughts on “[BeraniCerita #33] Sangkar Emas

  1. ooh, cerita ini ya yang Ika maksud kemarin? Sebagai cerita yang mandiri, nggak ada salahnya sih jika ‘sangkar burung’ hanya sekedar tempelan pada cerita. cuma, kali ini penulis ditantang menjadikan ‘sangkar burung’ sebagai pemicu kejadian berikutnya.

    koreksi dariku ada pada penggunaan kata depan ‘di’. lalu pada alasan supir tuan tanaka mengajak ‘aku’ menikah. supir itu tahu jika ‘aku’ adalah wanita panggilan. alasan kuat apa yang membuatnya berani mengajak menikah. tak ada tanda-tanda keduanya cukup saling mengenal. bahkan tokoh ‘aku’ tidak pernah menyebutkan nama supir itu.

    Salam. 🙂

  2. harus baca dua kali sebelum paham maksudnya, merangkai setiap kalimat menjadi alur cerita yang akhirnya terlihat dengan jelas. Ahh, sepertinya saya harus meningkatkan kemampuan dalam memahami tulisan dengan sekali baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s