[BeraniCerita #33] Bebas

burung

Aku masih terpekur ditempat ini. Melihat orang berlalu lalang. Datang dan pergi. Terkadang singgah sebentar lalu pergi entah kemana. Ataupun duduk berlama-lama di kursi jingga yang empuk, seperti sepasang kekasih yang duduk di pojok rungan ini sejak dua jam lalu.

Toko kue ini memang selalu ramai. Kue-kue yang dijual di toko ini selalu ludes sebelum jam tutup toko tiba. Rainbow yang sedang tren itu pun kini menjadi kue yang banyak dicari. Warna warni cerahnya membuat semua orang tertarik.

Tak seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda bahagia itu, aku kesepian di tempat yang indah ini. Mengenang kampung halamanku,. Rindu sawah yang menghijau sepanjang mata memandang. Rindu pepohonan yang tinggi menjulang, juga sungai yang mengalir jernih. Aku juga rindu pada semua yang aku cintai. Termasuk dia yang telah mencuri hatiku.

Kesendirian menjadi temanku sehari-hari. Hanya lalu lalang orang yang membeli kue di toko ini hiburanku. Terkadang aku melihat muka-muka bahagia. Terkadang melihat muka-muka muram tanpa senyum. Hanya satu dua orang yang datang menghampiri dan menegurku.

***

Pagi ini tak seperti biasa. Gadis kecil berambut ikal mendekat dan menyapaku dengan hangat.

“Hai, namaku Klara. Aku cucu dari pemilik toko kue ini. Kamu sendirian?’ celotehnya riang.

Gadis kecil itu bercerita tentang apa saja padaku. Tentang boneka Barbie yang baru dibelikan neneknya kemarin. Tentang kegemarannya menyantap gula-gula yang ada di toko kue neneknya, dan tentang kesedihannya karena esok ia harus pulang ke rumah orang tuanya.

Tiga hari sudah gadis kecil itu menemaniku dengan keceriaannya. Hari ini terakhir kalinya aku mendengar celotehnya yang riang.

Kraarrrkkk

“Apa yang kamu lakukan, Klara?”terdengar suara perempuan mengagetkan gadis itu.

“Aku kasihan dengan burung pipit itu, Ma. Ia terlihat sedih sendirian di dalam sangkar. Aku lepas biar ia bebas dan bertemu dengan keluarganya.”

Terimakasih gadis kecilku, kau tak hanya memberiku kebebasan. Kau juga memberiku harapan. Harapan untuk mengukir indahnya dunia.

Word : 298

Advertisements

38 thoughts on “[BeraniCerita #33] Bebas

  1. Sudah lama gak membaca tulisannya Mbak Ika. šŸ˜€

    Oh ya, sepertinya kebebasan memang satu hal yang semua orang inginkan ya. šŸ˜‰

      • Ya, kalau dalam cerita ini, “kebebasan” itu sepertinya yang memang cukup besar pengaruhnya untuk kehidupan si pipitnya. šŸ˜€

      • Ada beberapa yang masih belum pas penulisannya di atas mbak. Masih dalam penggunaan kata di-. Di atas ada kata “dipojok”, seharusnya “di pojok”. šŸ˜€

        Aku malah terpikir, untuk eksekusi ide cerita, sebenarnya mbak Ika bisa lebih ‘ekstrim’ membuat cerita tentang tema bebas.

      • He..he.. terimakasih. Untuk cerita ini sebenernya aku lagi belajar membuat setting. Semalam baca novel “Barcelona Te Amo” settingnya bagus banget. Aku seperti bener-bener di Barcelona. Terasa bukan tempelan ^^

      • Setting-nya tervisualiasikan sempurna mbak? Hehe.

        Kalau semua fungsi pancaindera-nya “kuat” di dalam tulisan, itu juga ngebantu mbak di pembuatan settingnya. Jadi tidak cuma melalui ‘penglihatan’ tokohnya saja misalnya. Itu cukup bisa buat eksekusi di setting-nya semakin kuat.

  2. ada yang kurang pas neh… di satu kalimat dijelaskan kalau “Pagi ini tak seperti biasa. Gadis kecil berambut ikal mendekat dan menyapaku dengan hangat.” Lalu Klara bercerita bahwa esok dia sudah harus pulang. Nah, di kalimat berikutnya disebutkan, “Tiga hari sudah gadis kecil itu…” Jadi ada inkonsistensi di sini. šŸ™‚

  3. ceritanya bagus, mbak ika. halus tutur katanya. hanya saja, kurang ada emosi yang kuat antara si gadis cilik dengan burung pipit. terlalu medadak jika ditutup dengan ending si gadis melepaskan burung šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s