[Macaroon Love] Cinta Berjuta Rasa

Judul : Macaroon Love
Penulis : Winda Krisnadefa
Penerbit : Qonita
Cetakan Pertama : Maret, 2013
Tebal : 264 halaman
ISBN : 978-602-9225-83-9

MLMagali. Nama yang aneh. Tak jauh beda dengan kebiasaannya. Ia tak menyukai hal-hal biasa, terutama soal makanan. Di ulang tahunnya yang ke-24 ia masih saja ingin mengubah namanya. Padahal, kata Jhodi, ayahnya, Magali berasal dari bahasa perancis yang berarti mutiara. Tepatnya, daughter of the sea, anak perempuan sang samudra.

Sejak kecil Magali hidup bersama nene dan sepupunya, Beau. Jhodi hanya pulang saat ia tak melaut. Sementara ibunya meninggal sesaat setelah mengantarkannya hadir ke dunia.

Kecintaannya pada kuliner mempertemukan Magali dengan seorang pria bernama Ammar. Mereka bertemu di sebuah restoran cepat saji, saat Magali menikmati french fries yang ia cocolkan pada vanila sundae. Melihat selera Magali yang aneh itu, Ammar pun mendekat dan mengajaknya berkenalan.

Pertemuan tak terduga dengan Ammar kembali terjadi saat Magali menemukan sebuah restoran bernama Sajian Magali. Persis seperti namanya, hingga membuatnya penasaran, siapakah pemilik restoran tersebut. Ternyata, pemilik dan koki restoran itu ialah Ammar, pria yang ia temui di restoran cepat saji. Pertemuan yang menjadikan mereka dekat dan membuatnya merasakan hal-hal aneh yang cukup merepotkannya.

***

Macaroon Love merupakan novel yang memadukan kuliner dan cinta. Tema yang di usung cukup unik, tak heran jika novel ini berhasil masuk 10 besar lomba Qonita Romance 2011, sebelum akhirnya diterbitkan. Novel ini lahir berkat kejelian Winda menangkap informasi dan realita yang ada disekitarnya. Sosok Magali yang unik ini ternyata merupakan hasil observasi Winda atas apa yang ia baca dan amati dari social media setiap harinya “I learn a lot and get inspired so much by watching your life through my laptop screen,”

Dibalik keunikan Magali, Winda menyelipkan pesan manis tentang makna sebuah cita-cita. Whoever you are, satisfaction of self achievement that’s a dream. “Cita-cita kan, tidak harus terdengar bombastis agar yang mendengar ternganga! Bukan untuk itu cita-cita diciptakan! Bagaimana kalau aku punya cita-cita yang humble, seperti menjadi food writer? Apakah itu menjadikan aku manusia yang kurang hebat dibanding mereka yang bercita-cita ingin menjadi dokter atau presiden. Cita-cita itu adalah pencapaian yang memberi kepuasan pada diri sendiri, bukan orang lain…..” (hal 41-42)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s