Ibuk, Buatlah Pijakkan Yang Kuat

Judul : Ibuk,
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Juni, 2012
Tebal : 290 halaman
ISBN : 978-979-22-8568-0

Ibuk,A mother knows what her child’s gone through, even is she didn’t see it herself~Pramudia Ananta Toer (halaman 290)

Buku yang berkisah tentang pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi nafas bagi kehidupan bernama Tinah.

Tinah masih sangat belia saat ia mengikuti mbok Pah, neneknya, berjualan baju bekas di Pasar Batu. Saat itu usianya baru 16 tahun. Tinah tak sempat menyelesaikan sekolahnya di sekolah Taman Siswa Batu. Ia jatuh sakit menjelang ujian akhir kelas 6. Semenjak itu ia tak pernah kembali ke sekolah.

Di sebelah kios mbok Pah terdapat penjual tempe yang bernama Cak Ali. Matanya tak pernah terlepas dari Tinah. Sebelum menutup kiosnya, ia selalu memberi Tinah tempe. Terkadang Tinah membawakan Cak Ali sarapan. Tempe atau sambal goreng masakkannya sendiri. Tapi Tinah pemalu, ia jarang sekali berbincang dengan pemuda itu.

Sim, seorang kenek angkot berusia 23 tahun, playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam kehidupan Tinah lewat sebuah tatapan mata. Tatapan mata itu membekas diantara tumpukan baju. Sang playboy pasar terseret keluguan dan kesejukkan tatapan Tinah. Tatapan mata sang kenek angkot diam-diam menyelinap di hati Tinah.

Tinah dan Sim akhirnya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak bagi kelima anak buah cinta mereka. Kehidupan rumah tangga mereka penuh perjuangan dan hambatan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di saat hujab, biaya pendidikkan anak-anak yang besar, dan pernak pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

Kelahiran anak yang tak berjarak selain beresiko bagi si ibu juga sangat merepotkan ketika anak-anak mulai bersekolah. Dengan penghasilan suaminya yang tak menentu, saat angkot rusak, Sim suaminya bahkan tak bisa memberinya nafkah. Tapi Tinah sudah bertekad akan menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Salah satu dari anaknya, Bayek, tak hanya sukses mewujudkan impiannya, Bayek juga mampu bekerja di New York, Amerika Serikat. Setelah melalui 9 musim panas dan 10 musim gugur di New York, pada bulan Juni 2010 Bayek pulang kampung.

Kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata Iwan Setyawan. Kisah perjuangan sebuah keluarga dengan ekonomi yang pas-pasan untuk memperjuangkan impiannya, menyekolahkan anak setinggi mungkin. Kisah yang sangat menyentuh dan memberi pencerahan. Tak ada yang sia-sia dalanm sebuah perjuangan jika ikhlas menjalankannya. Dan impian itu pasti akan menjadi nyata jika kita berusaha mewujudkannya.

“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat! Buatlah pijakkanmu kuat” ~ Ibuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s