[BeraniCerita #30] Susu Dibalas Tuba

1train5

Lelaki itu terlihat gelisah. Sesekali berdiri, lalu tak berapa lama duduk lagi dibangku tua yang berada ditengah peron stasiun. Beberapa kali terlihat ia menengok jam yang berada dipergelangan tangannya. Dua batang rokok telah habis ia hisab. Hari ini jadwal rutin ia menjemput seseorang. Seseorang yang sangat berarti buatnya.

Wajah itu terlihat sedikit lega saat kepala stasiun mengumumkan kereta Malabar tak berapa lama lagi akan memasuki stasiun lewat corong suara. Jam menunjukkan pukul 23.30. Kereta terlambat satu jam dari jadwal yang seharusnya.

Lelaki itu kini tersenyum pada gadis berambut lurus sebahu yang sedang bergegas menuju tempatnya berdiri. Ia menyambut gadis itu dengan senyum yang khas. Senyuman kerinduan.

***

Aku termenung didalam kereta api yang akan mengantarkanku pulang. Kulihat titik-titik air bekas hujan di jendela kereta, sambil membayangkan apa yang terjadi nanti. Akankah aku memiliki keberanian untuk berkata jujur.

Hari ini jadwalku pulang menemui ibu setelah dua minggu bergulat dengan aktivitas kampus. Danar pasti sudah menungguku di peron stasiun. Seperti biasa, ia menyambutku dengan senyumnya yang khas. Dua jam lagi kereta sampai. Sedikit kerusakan pada mesin kereta membuat kepulanganku mundur satu jam dari jadwal seharusnya. Sesuatu yang aku syukuri. Setidaknya, aku punya waktu lebih untuk menenangkan diri. Semakin dekat dengan stasiun tujuanku, semakin sulit aku mengatur irama jantungku.

Ciiiit…

Derit roda kereta api memekakkan telinga saat lokomotif memaksa lima gerbong dibelakangnya untuk berhenti. Aku berbenah dan siap melangkah keluar gerbong. Aku berjalan tergesa menuju tempat Danar menungguku. Tak sulit mencari keberadaan Danar. Ia selalu menungguku di dekat kursi tua yang berada persis di tengah peron.

“Danar, bisa kita mampir sejenak di cafe?” Aku perlu minuman hangat untuk mengurangi rasa lelahku.” ajakku pada Danar.

“Tapi, ini sudah hampir jam dua belas malam, Tia.”

“Tak apa, aku sudah memberitahu ibu jika kereta rusak, jadi aku pulang lebih larut dari biasanya.”

“Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya. Aku takut ibumu lelah menunggumu.”

“Tolong pesankan aku Single Espresso panas, Nar,”pintaku pada Danar sambil berjalan menuju bangku yang berada di pojok cafe.

“Danar, ada yang ingin aku omongin sama kamu,”ujarku beberapa saat setelah kopi pesanan kami datang.

“Dua bulan lagi rencananya aku akan menikah dengan Priyo.”

Hening.

Tiga puluh menit berlalu, tetap hening. Mulut kami bungkam.

“Yuk, kita pulang sekarang,” suara Danar memecah keheningan dan mengagetkanku.

***

Maafkan aku Danar. Cinta lebih memilih Priyo, adikmu. Sayangnya, aku tak bisa mengingkarinya hanya demi tuk membalas budi atas semua kebaikamu membantu membiayai hidupku dan ibu, juga kuliahku.

Word : 387

Advertisements

14 thoughts on “[BeraniCerita #30] Susu Dibalas Tuba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s