[BeraniCerita #29] Kamto

Aku tergugu sendiri didalam kamar. Teringat pertengkaranku dengan mama beberapa saat yang lalu. Aku benci pertengkaran ini. Berulang dan berulang. Semua gara-gara kasak kusuk tetangga.

“Suamimu masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya merokok, Din. Diam-diam ia lakukan itu dibelakangmu,”

“Enggak, Ma. Dia sudah janji akan menghentikan kebiasaan buruknya itu, demi calon janin dirahimku.”

“Tapi, tetangga bilang sering melihat suamimu kedapatan merokok, Din.”

“Sudahlah, Ma. Aku ndak mau percaya omongan orang.”

“Tapi memang itu kenyataannya, Din!” Suara mama meninggi.

“Aku lebih percaya kata mas Arman daripada omongan tetangga, Ma!” kataku tak kalah sengit.

“Dina! Sampai kapan kamu akan membohongi dirimu sendiri. Bukankah kamu sering mencium bau rokok dibajunya?”

“Sudahlah, Ma. Bau rokok dibajunya bukan berarti ia merokok. Bisa saja itu bau rokok temannya saat mas Arman kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Maaf Ma, aku capek. Aku mau istirahat dulu.”

***

Tahun ini memasuki tahun kesepuluh pernikahanku dengan mas Arman. Sampai sejauh ini, belum ada tanda-tanda aku hamil.

Aku anak satu-satunya yang dimiliki mama. Wajar jika mama sangat berharap dapat menimang cucu dariku. Apalagi, setelah papa meninggal dua tahun lalu, mama sepertinya kesepian.

Dari hasil pemeriksaanku beberapa waktu lalu, terungkap jika kesulitanku untuk hamil ternyata gara-gara sperma mas Arman yang kurang energik, hingga sulit mendekati telurku. Dokter sudah memvonis mas Arman untuk menghentikan kebiasaannya merokok jika ingin memiliki momongan.

***

Malam ini aku sendirian di rumah. Mama sudah pergi sejak ba’da maghrib tadi. Seperti biasa, setiap malam jum’at mama selalu rutin mengikuti yasinan di masjid. Sementara mas Arman pamit keluar. Mau ke warung kopi sebentar, katanya.

Entah mengapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku ingat malam ini malam jum’at kliwon.

Tiba-tiba aku mencium aroma kemenyan. Ah..tak mungkin, pikirku. Itu hanya takhayul. Buru-buru aku baca ayat kursi untuk menghilangkan ketakutanku.

Lama kelamaan bau kemenyan semakin menyengat. Bau ini seperti…

Buru-buru aku keluar rumah untuk memastikan. Dan ternyata benar. Ada sesosok manusia sedang jongkok di pekarangan belakang rumah.

Oh Tuhan. Itu pasti mas Arman. Aku yakin sekali, sebab mas Arman paling suka rokok kamto*. Apalagi beberapa kali aku menemukan puntung rokok kamto terselip diantar rerumputan saat aku menyapu pekarangan belakang rumah.  Tiba-tiba lemas semua persendianku dan aku pun ambruk tak sadarkan diri.

Rokok

Total huruf: 333

catatan:

kamto=rokok lintingan sendiri, kadang ditambahi kemenyan untuk menambah cita rasanya.

Diikusertakan dalam tantangan BeraniCerita dengan tema : puntung rokok.

banner-BC_29

Advertisements

16 thoughts on “[BeraniCerita #29] Kamto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s