Bali 16 Tahun Lalu

Bali mengingatkanku pada kisah 16 tahun silam tatkala aku masih menggunakan seragam putih abu-abu. Sama seperti anak muda pada umumnya, masa SMU merupakan masa-masa terindah. Masa pencarian jati diri, begitu kata orang tua.

Setelah bermusyawarah dengan perwakilan masing-masing kelas, darmawisata kelas 2 akhirnya diputuskan ke Bali setelah perdebatan sengit antara Jakarta dan Bandung sebagai pilihan lain.

Aku yang saat itu tinggal dengan simbah sedikit bingung mengingat biaya yang harus dikeluarkan relatif besar dibanding jika wisata ke Jakarta ataupun Bandung. Tapi apalah daya, teman-teman sudah bersepakat, sekarang tinggal berfikir bagaimana aku mendapatkan biaya plus uang saku untuk pergi ke Bali.

Benar saja, saat aku sampaikan biaya yang diperlukan simbah bilang,”Lha kok larang banget tho. Nek biaya ne sak mono aku raiso nyangoni” (Lha kok mahal banget, kalau biayanya segitu saya tak bisa memberi uang saku).

Bingung? Pastilah. Ndak mungkinkan aku tidak ikut serta. Entah ide dari mana tiba-tiba Sita sahabatku yang aku ajak bicara masalahku berkata,”Pacarin aja si Doni.”

“Doni?” kataku heran.

“Iya, Doni yang anak kelas 2B itu khan naksir kamu. Dia khan tajir Ka.”

“Ampun deh, Ta. Aku khan ndak ada perasaan cinta sama dia.”

“Halah, cinta mah urusan belakangan, yang penting kamu bisa ikut wisata ke Bali.”

“Ntar mutusinnya giman, Ta.”

“Gampang, bilang aja ke Doni, setelah dipikir-pikir ternyata kalian ndak ada kecocokkan.”

Akhirnya dengan perasaan berat aku pacari Doni dengan Sita sebagai mak comblangnya. Walhasil selama liburan di Bali aku pun jadi pacar dadakannya Doni. Dan seperti rencana semula, setelah wisata ke Bali berakhir, aku akhirnya putus dengan Doni.

Tak terasa kini kenangan itu sudah 16 tahun berlalu. Tapi entah kenapa rasa bersalahku pada Doni tetap terlintas saat aku mengenang masa-masa SMU. Setelah putus denganku Doni masih sering datang ke rumah.

Tapi tekadku sudah bulat, tak mungkin aku jalan dengan orang yang tak aku cintai. Dan yang membuat perasaan bersalahku semakin bertambah ialah sikap Doni yang selalu baik padaku. Sampai kelas 3 SMU pun Doni tak memiliki pacar. Pernah ia sampaikan alasannya padaku kenapa ia tak jua mencari penggantiku, “Sulit melupakanmu, Ka,” begitu ungkapnya suatu waktu.

Tulisan ini diikut sertakan dalam GA Bali Bids Aloha

Bali Bids Aloha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s