[12 Menit] Dreaming is Believing, Vincero!

SAMSUNG CSC

Judul buku : 12 Menit

Penulis : Oka Aurora

Penerbit : Noura book

Cetakan : I, Mei 2013

Tebal buku : 343 hal

***

 Think Like A Champion, And Fight Like One! (halaman 305)

Tak mudah bagi Rene mengajar anak-anak Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Permasalahn bukan pada kemampuan teknis mereka, tapi pada mentalitas juara mereka yang sangat rendah. Tak memiliki mental juara berarti kalah sebelum bertanding. “Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang.” (halaman 307)

Hal lain yang menjadi batu sandungan Rene ialah masalah pribadi masing-masing anggota tim yang hampir menggagalkan keberangkatan mereka ke Jakarta untuk mengikuti GPMB (Grand Prix Marching Band).

“Kamu mau menyerah? Kamu tahu siapa yang paling kecewa kalau kamu menyerah? Bukan oma dan opa kamu. Bukan ibu kamu, yang lagi susah-susah kuliah di luar negeri demi kamu. Dan, bukan saya. Tapi, kamu!” (halaman 140)

Berondongan kata-kata Rene bak peluru yang ditembakkan mitralir tak sanggup meruntuhkan keteguhan hati Tara. Tekadnya sudah bulat. Tak mungkin aku berada di lingkungan yang tak memahami kondisiku, begitu pikir Tara.

Tara, gadis berjilbab dengan pendengaran terbatas akibat kecelakaan yang dialaminya bersama ayahnya itu terpuruk karena tak bisa mendengar dengan jelas nada-nada snare drum yang menjadikannya biang kekacauan latihan.

Kecelakaan yang dialaminya tak hanya membatasi pendengarannya, bahkan merenggut nyawa ayahnya, juga menjadikannya didera perasaan bersalah yang tak pernah habis hingga merubah pribadinya yang ceria menjadi pribadi pemurung, tertutup dan mudah tersinggung.

Permintaan maaf Rene tak digubris Tara. Bahkan bujukkan Oma dan Opanya pun tak membuatnya bergeming. Perlu waktu untuk menyadarkan Tara bahwa untuk mencapai impian ia harus melewati banyak rintangan seperti perumpamaan yang diberikan Opa padanya.

“Kadang-kadang, hidup itu ya, kayak gitu, Dek. Kayak dorong mobil ditanjakkan,” jelas Opa. “Susah. Berat. Capek. Tapi kalau terus didorong, dan terus didoain, Insya Allah akan sampai.” (halaman 160)

Elaine, gadis blasteran Jepang yang memiliki bakat musik luar biasa ini juga memiliki permasalahan pelik dengan ayahnya, Josuke Higoshi. Saat ia terpilih mewakili sekolahnya mengikuti Olimpiade Fisika, Elaine dihadapkan pada dua pilihan, marching band yang menjadi pilihan hatinya ataukah Olimpiade Fisika pilihan ayahnya. Josuke menginginkan Elaine menjadi Ilmuwan, sementara ia sendiri lebih mencintai musik.

Josuke marah besar saat ia mengetahui Elaine lebih memilih marching band daripada Olimpiade Fisika. Dengan berbagai cara Josuke menghalangi Elaine mengikuti latihan walaupun Josuke tahu kini Elaine didapuk menjadi Field Commander, pemimpin tim marching band menggantikan Ronny yang mengalami patah kaki akibat kecelakaan.

Sementara Lahang, pemuda asli Dayak ini sanggup berjalan berkilo-kilo melewati rawa-rawa yang dihuni buaya untuk sampai di tempat latihan demi mewujudkan impian ibunya yang telah meninggal untuk melihat Monas.

Lahang dihadapkan pada satu kenyataan yang menyebabkan semangatnya meredup. Ayahnya, sang kepala suku, sakitnya kian parah. Bahkan beberapa saat sebelum keberangkatannya, ayahnya kritis. Janji ayahnya untuk menunggu Lahang meringankan langkahnya untuk tetap berangkat ke Jakarta.

Saat pertama kali melihat cover novel “12 Menit” di toko buku saya sudah yakin novel ini dijamin tak mengecewakan. Tulisan ‘Nantikan Filmnya’ di sampul depan novel “12 Menit” menandakan novel ini memiliki kualitas lebih. Sama seperti buku-buku lain yang sudah dilirik para produser untuk di filmkan, isi novel ini memang tak kalah menarik.

Oka Aurora mampu membangun konflik tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini hingga sanggup menguras emosi pembaca. Terkadang sedih hingga mampu menitikkan air mata, marah, gembira dan menghentak tak terduga. Plot bolak-balik pun digarap apik oleh Oka Aurora, hingga pembaca tetap mudah mengikuti alur cerita.

Banyaknya istilah-istilah teknis yang terdapat dalam novel ini sedikit membingungkan pembaca yang awam dengan dunia Marching Band. Penempatan glosarium di halaman belakang tak banyak membantu mengurangi kebingungan pembaca. Membolak balik halaman untuk mengetahui makna dari kata yang terdapat dalam novel saat membacanya tentu akan membuat konsentrasi si pembaca terpecah. Akan lebih baik jika keterangan dijadikan catatan kaki dihalaman tersebut hingga pembaca tak perlu membolak balik halaman untuk mengetahui penjelasan istilah-istilah tersebut.

Novel ini mengajarkan banyak hal pada kita. Sebuah kemenangan tak hanya perlu perjuangan lebih, dibutuhkan juga mental juara. Perjuangan keras dan mentalitas juara itu diumpamakan Rene seperti berenang melawan arus yang sangat kuat. Begitu berhenti berenang, maka akan segera terdorong ke belakang. “Untuk melawan arus, kalian bukan hanya butuh tubuh yang kuat. Kalian juga butuh mental yang kuat.” (halaman 134)

Dreaming is believing, Vincero!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit

 

Banner Lomba 12 Menit


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s