Perpaduan Hot & Cool Khas Purworejo

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua dengan temanya Rasa Lokal alias local flavour.

Saya tinggal di Purworejo, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah bagian selatan yang memiliki 16 kecamatan, dengan pusat pemerintahan di kecamatan Purworejo.

Sebagian besar penduduk Purworejo merupakan petani dan petani penggarap (buruh tani) baik persawahan maupun perkebunan. Selain bertani padi, beberapa kecamatan di Purworejo merupakan sentra buah manggis dan buah durian. Saat kedua buah tersebut panen raya, hampir dipastikan kita bisa menikmatinya dengan harga yang murah. Harga durian yang di Jogja berharga 25.000, disini bisa dibeli dengan harga 5.000.

Apakah kalian pernah mendengar kambing PE Etawa yang harganya selangit, kawan?

Ya, kambing PE Etawa memang berasal dari daerah Kaligesing Purworejo. Konon kabarnya, kambing Peranakan Etawa (P.E) yang dikembangkan di daerah Kaligesing ini merupakan perkawinan antara kambing kambing lokal dengan kambing Etawa yang berasal dari India yang dibawa penjajah Belanda.

Ciri khas kambing ini, memiliki muka cembung dengan telinga panjang mengglambir. Kambing PE memiliki postur tubuh tinggi (gumla) antara 90-110 cm, bertanduk pendek dan ramping.

IMG01278-20130410-1248

Jika teman-teman berkesempatan bertandang ke Purworejo Jawa Tengah, jangan lewatkan untuk mencoba minuman yang satu ini. Namanya ‘Dawet Ireng’ khas butuh (Orang jawa biasa menyebutnya mbutuh. Seperti kata mbali saat menyebutkan pulau Bali).

Disebut dawet ireng atau dawet hitam karena butiran cendolnya berwarna hitam. Selidik punya selidik, warna hitam cendol ini berasal dari merang atau daun padi yang dibakar sampai menjadi abu, kemudian dicampur dengan air hingga menghasilkan air berwarna hitam. Lalu air tersebut disaring dan digunakan sebagai pewarna cendol. Benar-benar alami bukan?

Jenis cendol dawet ireng berbeda dengan dawet lain yang sejenis. Jika biasanya cendol dawet dibuat dari tepung beras, cendol Dawet Ireng terbuat dari tepung sagu dan tepung erot. Tepung sagu dan tepung erot ternyata berkasiat sebagai pereda panas dalam serta memperlancar pencernaan.

IMG01279-20130410-1249Hampir sama dengan jenis dawet lain, dawet ireng khas butuh ini dicampur dengan santan yang sudah direbus dan juruh dari gula jawa. Maaf, saya agak bingung mengartikan kata juruh dalam bahasa Indonesia. Yang jelas, juruh terbuat dari gula aren yang dimasak dengan air hingga mengental.

Dalam penyajiannya jumlah cendol dalam Dawet Ireng jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian ditambah es, yang akan membuat kita segar dan kenyang.

Dari cerita penduduk setempat, konon kabarnya Dawet Ireng pada mulanya dipasarkan pleh Mbah ahmad sekitar tahun 1950 di daerah sebelah timur jembatan Butuh Purworejo. Kini, dawet ireng dapat ditemukan disepanjang jalan Butuh-Bayan.Dengan harga rata-rata 3.000 rasanya cukup enteng dikantong bukan.

ricaricaenthokmercon_edited

Rica-rica Enthok

Jika dawet ireng merupakan minuman khas Purworejo, makanan khasnya ialah rica-rica enthok. Enthok berarti itik. Jadi rica-rica enthok adalah rica-rica dengan bahan dasar itik.

Enthok yang telah dicacah-cacah kemudian dibumbui dengan bawang putih, bawang merah, cabe rawit,cabe merah serta bumbu dapur ini memiliki kepedasan ekstra. Bagi penggemar masakkan pedas, rica-rica enthok khas Purworejo patut dicoba.

Rica-rica enthok yang paling terkenal disini ialah rica-rica enthok mbak Wiek yang berada Alun-alun Purworejo, tepatnya berada di depan masjid Agung Purworejo dan rica-rica mbak Pur. Namun sayang, keduanya baru bisa kita nikmati dimalam hari karena mereka buka mulai pukul 17.00 hingga larut malam.

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri

 

Advertisements

4 thoughts on “Perpaduan Hot & Cool Khas Purworejo

  1. harga kambingnya brapaan mbak?

    eh rica di sana artinya apa? dari tulisan di atas keknya cuma nama makanan yah, kalo orang Manado, rica itu artinya cabe.

    Rica enthok sepertinya enak tuh ^.^, dawet sukaaaa

    • Kambiingnya harganya ndak ada standar patokan harga. Tergantung kualitas dan harga di pasaran. Kadang bisa sampai ratusan juta.
      Kalo disini rica ndak ada artinya. Mungkin karena modifikasi rica2 dari daerah Manado

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s